Tugas metode penelitian ringkasan jurnal strategi percepatan pengembangan ndustri turunan Minyak Sawit Mentah (MSM) di Indonesia
STRATEGI PERCEPATAN PENGEMBANGAN INDUSTRI TURUNAN
MINYAK SAWIT MENTAH
(MSM) DI INDONESIA
Minyak sawit merupakan bahan
dasar berbagai produk konsumsi, mulai dari cokelat, permen karet, lipstik,
deterjen, donat, sabun, hingga biodiesel, dan di Indonesia minyak sawit di
gunakan sebagai bahan dasar minyak makan dan mie. Minyak sawit mentah memiliki
keunggulan sebagai bahan baku industri oleokimia dibandingkan minyak nabati
lain (Rupilius dan Ahmad, 2007b). Produksi kelapa sawit merupakan bagian
penting dari ekonomi Indonesia karena negara ini merupakan konsumen dan
produsen sawit terbesar di dunia. Indonesia bahkan memasok kurang lebih separuh
pasokan sawit di dunia.
Luas perkebunan sawit yang
ada di Indonesia pun mencapai 6 juta hektar, di mana luas tersebut dua kali
luas dari negara Belgia. Indonesia telah menjadi produsen utama minyak sawit
dunia dengan kontribusi sebesar 48,37% dari total produksi dunia pada tahun
2013 (GAPKI, 2014). Terhadap pendapatan nasional memberikan kontribusi 10% dan
menyerap tenaga kerja langsung sebanyak 6 juta orang. Industri oleokimia
termasuk industri dengan jumlah investasi besar dan tingkat keuntungan rendah,
perkembangan industri ini jika tidak ada insentif yang baik akan sangat lamban,
sehingga perlu adanya strategi percepatan (Rupilius dan Ahmat 2007a). Oleokimia
merupakan senyawa turunan minyak lemak yang dihasilkan melalui proses kimia,
dalam industri olokimia proses kimia struktur minyak tersebut dipecah menjadi
struktur lain seperti asam lemak, gliserol, ester lemak dan juga alkohol lemak.
Produk turunan minyak kelapa
sawit mentah (MSM) di dunia telah berkembang dengan cepat. Berdasarkan majalah
bisnis 2014 menyatakan secara komersial Indonesia masih berada di bawah
Malaysia dalam produksi turunan minyak kelapa sawit yang dimana Malaysia
memproduksi sebanyak 440 jenis sedangkan Indonesia memproduksi sebanyak 156. Pengembangan
industri turunan minyak kelapa sawit dengan sasaran ganda untuk meningkatkan barganing
position dan mendapatkan nilai tambah yang besar maka pengembangan produk
turunan MSM diarahkan pada penggunaan MSM yang tinggi dengan tingkat
profitabilitas atau nilai tambah produknya yang tidak terlalu rendah. Produk
turunan MSM yang mempunyai sifat demikian umumnya turunan oleokimia. Guna
menjadikan Indonesia sebagai basis industri oleokimia serta dapat melewati
Malaysia dalam menghasilkan produk turunannya maka diperlukan adanya strategi
percepatan pengembangan industri turunan minyak sawit mentah.
Tujuan dari di buatnya
makalah ini yaitu peneliti bermaksud mengidentifikasi permasalahan untuk mengidentifikasi permasalahan
percepatan pengembangan industri turunan minyak kelapa sawit mentah (MSM) di
Indonesia, menentukan alternatif strategi dan juga mendapatkan urutan prioritas
langkah strategi percepatan pengembangan industri turunan MSM sebagai bagian
penting dalam pembangunan industri kelapa sawit di Indonesia. Untuk mewujudkan
tujuan ini diperlukan strategi percepatan pengembangan industri turunan minyak
sawit mentah di Indonesia. Dalam pengembangannya diperlukan pertimbangan
keunggulan kompetitif (Diamond Porter)
dan alternatif strategi pengembangan. Alternatif strategi diperoleh dari
pendapat para ahli dengan metode interaktif, yakni menarik suatu intisari
persoalan dengan wawancara langsung para nara sumber/pakar guna mencari
pemecahan masalah. Penentuan strategi percepatan dilakukan dengan metode atau
teknik analytical hierarchy process (AHP).
Tahap penelitiaan yang
dilakukan pada peneliti dalam menyelesaikannya yaitu dengan tahap-tahap sebagai
berikut.
Faktor yang menjadi
pertimbangan dalam menentukan langkah strategi untuk mempercepat berkembangnya
industri turunan minyak sawit di Indonesia adalah besarnya biaya yang timbul,
lama waktu untuk proses pendirian, dan sumber daya manusia yang terkait dalam
proses pembentukan. Faktor sumber daya manusia menjadi pertimbangan utama.
Identifikasi
permasalahan menemukan bahwa hasil penelitian sampai saat ini belum mendukung keberadaan
industri hilir minyak sawit, infrastruktur belum memadai, adanya struktur pasar
oleokimia yang oligopoli, dan adanya ketidakkonsistenan pemerintah dalam
mendukung pengembangan industry turunan minyak sawit mentah.
Menurut peneliti Alternatif
strategi dan urutan prioritas langkah percepatan pengembangan industri turunan minyak
sawit mentah di Indonesia adalah sebagai berikut (1) komitmen pemerintah, (2)
kepastian pasar, (3) penyiapan infrastruktur, (4) dukungan secara moneter, (5)
penyederhanaan perijinan, dan (6) adanya insentif pajak. Hasil analisis AHP menunjukkan komitmen pemerintah
menjadi prioritas utama alternatif
langkah strategi dengan nilai tertinggi 0,31 dibandingkan dengan alternatif
lainnya.
Saran
dari penelitian ini yaitu menyarankan sebaiknya pemerintah dalam proses
pelayanan dan perijinan pada pihak ketiga sedapat mungkin dibuat proses
interaksi antar personil tidak ada atau minimal misalnya dengan memanfaatkan
teknologi informasi atau e-government dan untuk komitmen pemerintah
sebagai prioritas utama percepatan pengembangan industri turunan minyak sawit
mentah sebaiknya bukan hanya terbatas pada program atau petunjuk pelaksanaan
saja sebaiknya tertuang dalam suatu produk hukum dengan kekuatan yang tinggi
dengan pengawasan yang tegas.
Dan juga diperlukannya penelitian lanjutan
dengan mempertimbangkan derajat hubungan antara alternatif baik yang saling
bersinergis maupun anti sinergis. Sehingga dapat disusun strategi pengembangan
industri turunan minyak sawit mentah yang lebih baik lagi.
Sumber :
Komentar
Posting Komentar